Gerbong perubahan

Merubah diri merupakan sebuah tindakan yang sangat sulit dilakukan bagi orang yang pesimis ...

13 Februari 2009

Ceriaku Dipinggir Tambak

Pengembangan Potensi Diri (P2D) adalah salah satu program yang dilaksanakan oleh SDIT Insan Kamil untuk siswa kelas 6 hal ini bertujuan untuk mendidik dan menjadikan siswa yang betul - betul mandiri dan memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi.
Kali ini program P2D dilaksanakan didesa kali kajang kelurahan gebang sidoarjo yang bertepatan didaerah tambak, ini merupakan tantangan bagi siswa kelas 6 SDIT Insan Kamil.
Awalnya mereka berangkat dari sekolah menuju desa Penatar Sewu kemudian mereka diangkut 3 perahu kecil yang masing - masing perahu berisi 15 orang menuju Kali Kajang, peristiwa ini sangat menyenangkan bagi mereka yang meskipun dihati mereka agak sedikit takut karena mereka tidak pernah naik perahu.
Dua jam perjalanan dilalui dengan penuh tawa dan canda ria yang meskipun terik matahari menusuk kulit, dan tak terasa akhirnya mereka tiba didesa yang selama ini belum mereka ketahui.
Tepat jam 10.30 mereka turun dari perahu dan berjalan diatas jalan yang gabul dengan tanah (tanah yang habis kena air hujan) dengan membawa peralatan dan menenteng sandal menuju balai desa. disana mereka disambut oleh bapak Rw dengan beberapa warga dengan penuh keramahan, kemudian mereka melepas lelah dengan membersihkan balai desa dan kaki dari tanah yang menempel dikulit. tepat pukul 11.15 mereka berjalan menuju masjid untuk menunaikan sholat jum'at yang katanya orang desa masjid itu jaraknya 500 m akan tetapi masjid itu sangat jauh dan kurang lebih jaraknya 1,5 km, tetapi anak - anak sangat enjoy. mereka berjalan dengan manikmati angin yang bertiup kencang dan desiran air tambak, jam 11.50 mereka nyampai masjid dan mereka mendengarkan khutbah dengan begitu hikmat. setelah itu mereka kembali menuju balai desa dan makan siang yang sudah disediakan oleh bapak RW. kemudian diantarlah mereka kerumah - rumah penduduk yang bertepatan kelompok yang saya dampingi berada dirumah ibu Nasikah, ibu ini usianya 45 tahun dia ditinggal suaminya dan tidak pernah kembali karena dia tidak mempunyai anak. dengan kedatangan kami dan para siswa yakni Azam, Dicky dan gandhika ibu ini merasa bahagia. azam, dicky dan gandika bergantian mengenalkan diri dan mereka memberikan sembako yang dibawah dari rumah memang dikhususkan untuk pemilik rumah, yang sangat menarik bagi saya anak ternyata anak - anak begitu peduli dengan apa yang dikerjakan oleh ibu tanpa mereka diperintah, mereka membantu mencuci piring dengan bahasa polosnya mereka menawarkannya dengan bahasa anak sekolah "buk dibantu a mencuci piring" ibu menjawab "aku gak ngerti leh" akhirnya anak - anak datang kepada saya dan bertanya apa bahasa jawanya dibantu mencuci piring saya jawab "buk kulo rencangi kora - kora nggih" akhirnya mereka tau bahwa mereka harus berkomunikasi dengan bahasa jawa. Aazam, Dicky dan Gandika bergantian membantu ibu Nasikah .
Malam hari telah tiba desa kelihatan gelap dan sepi karena kebanyakan rumah tidak memakai lampu listrik tetapi memakai lampu oblik, yang memakai lampu listrik jam 10.00 sudah dimatikan karena listrik belum masuk ke desa ini, listriknya memakai dessel. Azam,Dicky dan Gandika tidak mau tidur karena pingin melihat air laut pasang waktu itu bertepatan dengan musim prapo (tanggal 13,14,15,16 jawa) dan memang betul air laut pasang sampai membanjiri rumah warga dan tambak - tambakpun banyak yang jebol.
jam 12.00 banjir sudah mulai surut dan mereka sudah mulai membaringkan diri diatas lantai yang tidak berubin yang hanya dilapisi oleh sigaran karung beras untuk menutupi tanah akan tetapi mereka tidak ada yang berkeluh kesa dan malahan mereka merasa senang dengan tempat yang seperti ini, mereka bisa tidur dengan pulas sampai pagi. jam 4.30 mereka bangun dan melakukan sholat berjamaah didalam rumah sebab jalannya mbeletok. jam 5.00 mereka berkumpul dibalai desa untuk senam pagi, setelah senam pagi mereka diajak salah satu tuan rumah dari kelompoknya ustadz Fajar untuk mengambil ikan di prayang, mereka dengan semangat mengikutinya sambil menikmati udara pagi dipinggiran tambak, mereka berjalan melewati beberapa tambak dengan penuh tawa ria seolah - olah tidak ada beban dan kesedihan diwajahnya. akhirnya sampailah ke tambak yang dituju disana azam,dicky, gandika dan temannya mencari concrom dan membakar ikan keteng, mereka memakan dengan lahap dan kata mereka rasanya "maknyus", gandika serta fauzan tidak mau berkeliling tambak kerena ikan ketingnya belum habis dia pingin menghabiskannya.
Hari sudah mulai agak panas mereka kembali kerumah masing-masing untuk mandi dan bersih - bersih diri, tetapi mereka tidak bersih bersih diri malah meneruskan dengan membakar ikan mimi yang telah diberi oleh tuan rumahnya fauzan mereka sangat senang sekali kata ibu nasikah "woh arek-rek senenge mangan mimi gak mbliur ah" bahkan ketika diajak kembali mereka tidak mau malahan minta lebih lama lagi untuk tinggal disini. Semoga dengan kebaikan yang kalian lakukan Allah memudahkan dalam menggapai cita-citamu

1 komentar:

Arief A. Yudanarko mengatakan...

Tulisannya inspiratif, akan lebih nyaman dibaca kalau diatur paragraf dan jaraknya.